I JUST ONE BIGHUG EVERY NIGHT

•June 6, 2014 • Leave a Comment

Kekeringan yang kurasa tiap hari
Tak ada rayu
Tak ada canda
Tak ada senyum yang menyapa
Bagaimana aku bisa sangat mencintaimu
Bukan harta yang ku harapkan darimu
Bukan ketampanan yang ku banggakan darimu
Dimana kau berada…
Aku merindukanmu
Walau kau slalu disisiku setiap saat

JIBRIL AS, KERBAU, KELELAWAR DAN CACING

•February 7, 2013 • Leave a Comment

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.

Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, “hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau”. Si kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri”. Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.

Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, “hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar”. “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya”, jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.

Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, “Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing”. Si cacing menjawab, ” Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya”.

MUHASABAH

•February 6, 2013 • Leave a Comment

Ya Allah …………………..
Setiap detak nadi yang kau denyutkan ditubuh kami
Setiap detik itu pula KAU ingatkan kami untuk mendengdangkan asmaMU dalam degupan jantung kami.
Seluas samudera, selebar dunia, setinggi langit di atas ubun-ubun kami, KAU anugerahkan kami rezeki yang begitu berlimpah.
Agar kami senantiasa mampu bersyukur dan mentafakuri segenap keindahan ciptaanMU…………..

Ya Allah…
Sampai detik ini, atau mungkin sampai detak nadi berhenti
Kami belum sanggup, kami belum mapu memaknai arti dunia ini
Kami masih sibuk bermaksiat, lelap tidur dengan selimut nafsu dan angkara murka
Pontang-panting meraup gelimang harta keindahan dunia
Tanpa kami sadari, waktu terus berjalan, waktu terus berlalu sampai kami tak sadar
Betapa banyak waktu tersita dan tersia-sia…………….

Ya Allah……………..
Kami memohon kepada MU sebelum ajal menjemput kami, beri kesempatan kami untuk berbakti kepada orang tua kami yang dengan susah payah melahirkan kami
Membesarkan kami dengan segenap cinta dan kasihnya……….
Dengan segenap jiwa dan raganya, tanpa pernah mereka meminta balas dari kami……….
Bahkan tak pernah mereka perdulikan lelah yang dirasakan……..
Sakit yang mendera tubuh mereka yang tanpa mereka sadari usia yang semakin senja………
Tulang-belulang semakin rapuh…, kulit mengkriput dimakan waktu……….
Tatapan sendu dan nanar yang semakin meredup demi kami anak-anaknya yang mereka sayangi tanpa pamrih.
Ya Allah…….!!!
Seandainya engkau akan renggut mereka dari kami….
Beri kesempatan kami untuk bersujud dan mencium kaki renta mereka…..
Menyaksikan sejumput senyum bahagia mereka di sudut bibirnya yang mulai memucat.
Jangan biarkan kami menyia-nyiakan waktu yang tersisa menjadi penyesalan yang tak berkesudahan……….

URGENSI PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PEMBERANTASAN KORUPSI

•August 8, 2012 • Leave a Comment

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.        Latar Belakang

Istilah takwa sering diartikan dengan upaya untuk melakukan perintah Allah SWT semampu kita, sekaligus pada saat yang bersamaan tidak melakukan larangan-Nya semampu kita pula. Di antara aplikasi ajaran takwa adalah sikap kehati-hatian untuk mendapatkan, mengumpulkan, dan membelanjakan harta. Harta yang kita miliki di dunia tidak kalah berat pertanggungjawabannya dibandingkan dengan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Rasulullah, dalam sebuah riwayat hadis, mengabarkan kepada sahabat Ka’ab bin Ujrah tentang pertanggungjawaban manusia kelak di akhirat:

“Wahai Ka’ab bin Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, dan neraka lebih pantas baginya” (HR. Ahmad).

Hadis tersebut menyiratkan betapa berharganya status ‘halal’ selalu melekat pada segala sesuatu yang kita miliki. Sabda Nabi SAW tersebut juga mengingatkan kita betapa harus berhati-hatinya kita ‘mengkonsumsi’ dan memanfaatkan segala sumberdaya yang dianugerahkan kepada kita. Jika satu teguk saja minuman haram atau satu suap saja makanan haram tercerna di dalam tubuh kita, ancaman neraka telah didengungkan oleh Rasulullah. Jika satu lembar kertas saja atau satu batang pensil saja yang kita gunakan adalah didapatkan dari cara yang haram, maka kabar dari Nabi SAW tersebut sudah siap menghantui kita.

Sangat disayangkan, kehati-hatian dalam memperoleh atau memanfaatkan harta dunia seakan sudah tidak dipentingkan lagi oleh umat manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai berbagai golongan manusia yang tidak menghiraukan cara-cara yang baik dalam mendapatkan harta. Dari level preman yang memalak para pelajar atau para penumpang angkutan umum, para pencuri yang tertangkap kamera pengintai, para pegawai negeri yang menggunakan waktu jam kerja untuk keperluan pribadi, hingga para pejabat negara yang melakukan tindak pencurian harta negara atau yang lazim kita kenal dengan korupsi.

Setiap hari berbagai media informasi tidak pernah sepi dari pemberitaan kasus korupsi. Yang meresahkan adalah para pihak yang dituduh melakukan tindakan korupsi ialah umat Muslim. Secara tidak langsung identitas Muslim atau agama Islam secara umum menjadi terpuruk reputasinya di mata publik. Publik layak untuk mengatakan, “Lihat saja itu para koruptor, kebanyakan adalah orang Islam”. Orang-orang awam menjadi berpandangan, “Apa tidak ada anjuran dalam agama Islam kepada umatnya untuk tidak korupsi?”

 

  1. B.        Rumusan Masalah

Dari latar belakang dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah diantaranya:

  1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan Islam?
  2. Bagaimana karakteristik pendidikan Islam?
  3. Apakah yang dimaksud dengan korupsi?
  4. Bagaimana pandangan korupsi dalam perspestif Islam?
  5. Pentingkah pendidikan Islam terhadap pemberantasan korupsi?

 

  1. C.        Tujuan
    1. Mengetahui pengertian pendidikan Islam
    2. Mengetahui karakteristik pendidikan Islam
    3. Mengetahui pengertian korupsi
    4. Mengetahui pandangan islam terhadap korupsi
    5. Mengetahui urgensi pendidikan islam terhadap pemberantasan korupsi

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.        Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan begitu pula pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan.

Dengan pendidikan Islam itu mereka akan terlatih dan secara mental sangat berdisiplin sehingga mereka ingin memiliki pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu intelektual atau hanya manfaat kebendaan yang bersifat duniawi, tetapi juga untuk tumbuh sebagi makhluk yang rasional, berbudi dan menghasilkan kesejahteraan spiritual, moral dan fisik keluarga mereka, masyarakat dan umat manusia.

Pendidikan Islam yang memiliki tujuan besar dan universal ini, bukan berlangsung temporal, tapi dilakukan secara berkesinambungan. Artinya tahapan-tahapannya sejalan dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas-batas tertentu, terhitung sampai dunia ini berakhir.

Pendidikan yang memiliki makna demikian ini adalah menjadi tujuan terpenting dalam kehidupan, baik secara individu maupun keseluruhan. Kita telah memahami, sasaran pendidikan dan pembinaan ini adalah kemaslahatan umat. Dengan demikian asas yang paling hakiki dari sebuah pendidikan adalah mencapai keridhaan Allah SWT, seperti termaktub dalam firman Allah :

Tidak wajar bagi seorang manusia yang Alloh berikan kepadanya Al Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, `hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.` Akan tetapi (dia berkata), `Hendaklah kamu menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(3: 79).

 

  1. B.        Karakteristik Sistem Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sebagai satu mata rantai dari Syariat Islam, memiliki ciri khusus yang sama dengan kekhususan Al Islam sendiri, yaitu syamil-kamil-mutakamil (sistem yang integral-sempurna-dan menyempurnakan). Integralitas sistem pendidikan Islam ini secara garis besar mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, yang secara garis besar adalah :

  1. 1.         Pendidikan Keimanan (aqidah)

Yang dimaksud dengan pendidikan iman adalah mengikat individu dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syari’ah Islamiyah. Metode pendidikan ini adalah menumbuhkan pemahaman terhadap dasar-dasar keimanan dan ajaran Islam yang bersandarkan pada wasiat-wasiat Rosululloh saw. dan petunjuknya.

  1. 2.         Pendidikan Moral (Akhlaq)

Maksud pendidikan moral adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh individu sejak masa analisa hingga ia menjadi seorang mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan.

Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan-keutamaan moral, perangai dan tabiat merupakan salah satu buah iman yang mendalam, dan perkembangan religius yang benar.

  1. 3.         Pendidikan Fisik

Pendidikan Islam sangat memperhatikan fisik tiap-tiap muslim. Apabila kita bicara tentang fisik dalam pendidikan, yang dimaksud bukan hanya otot-ototnya, panca inderanya dan kelenjar-kelenjarnya, tetapi juga potensi energik yang muncul dari fisik dan terungkap melalui perasaan.

Islam mendidik umatnya dengan memberikan rangsangan yang baik sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw. : “ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada mukmin yang lemah.” Islam juga mengajarkan aturan -aturan yang sehat dalam makan, minum, dan tidur. Mendidik untuk menjaga kesehatannya, dengan selalu menganjurkan olah raga dan menjauhkan diri dari penyebab-penyebab kelemahan.

  1. 4.         Pendidikan intelektual

Maksud pendidikan intelektual adalah pembentukan dan pembinaan berpikir individu dengan segala sesuatu yang bermanfaat, ilmu pengetahuan, hukum, peradaban ilmiah dan modernisme serta kesadaran berpikir dan berbudaya. dengan demikian ilmu, rasio dan peradaban individu tersebut benar-benar dapat dibina.

Akal adalah kekuatan manusia yang paling besar dan merupakan pemberian Allah yang paling berharga. Dan al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan akal ini. Al-Qur’an mendidik akal dengan begitu banyak ayat-ayat alam semesta untuk jadi bahan perenungan. Tapi bukan perenungan itu yang menjadi tujuannya, melainkan mendidik akal agar cermat, cerdas dan akurat dalam berpikir dan bersikap serta menempuh jalan hidup. (67:4 / 35:40 / 53:28 / 17:36)

  1. 5.         Pendidikan Psikhis

Maksud pendidikan psikhis adalah mendidik individu supaya bersikap berani, berterus terang, merasa sempurna, suka berbuat baik terhadap orang lain, menahan diri ketika marah dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan psikhis dan moral secara keseluruhan.

Tujuan pendidikan ini adalah membentuk, menyempurnakan dan menyeimbangkan kepribadian individu, sehingga mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik dan sempurna.

  1. 6.         Pendidikan Sosial

Maksud pendidikan sosial adalah mendidik individu agar terbiasa menjalankan adab-adab sosial yang baik dan dasar-dasar psikhis yang mulia dan bersumber pada aqidah Islamiyah yang abadi dan perasaan keimanan yang mendalam, agar di dalam masyarakat nanti ia bisa tampil dengan pergaulan dan adab yang baik, keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana.

  1. 7.         Pendidikan seksual

Yang dimaksud pendidikan seksual adalah upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada individu, sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan. Sehingga, jika anak tumbuh menjadi seorang pemuda, dia dapat memahami masalah yang dihalalkan dan yang diharamkan. Bahkan mampu menerapkan tingkah laku Islami sebagai akhlak, kebiasaan, dan tidak akan mengikuti syahwat dan cara-cara hedonisme.

Diantara pendidikan ini adalah mendidik adab-adab meminta idzin, adab memandang, keharusan menghindarkan diri dari rangsangan-rangsangan seksual, mengajarkan tentang hukum-hukum pada masa pubertas dan masa baligh, Perkawinan dan hubungan seksual, isti’far (mensucikan diri) bagi orang yang belum mampu menikah, dll.

Selain syamil, pendidikan Islam juga memiliki keistimewaan lain yaitu, Berdimensi manusiawi dengan paket pembinaan yang bertahap dan tawazun (penuh keseimbangan dalam segala sisi kehidupannya). selain juga terus mengikuti perkembangan jaman serta tetap menjaga orisinalitasnya.

Itulah garis besar karakteristik pendidikan Islam yang keberlangsungannya sangat bergantung pada manusia pelaksananya, perangkat serta keistiqomahan seluruh masyarakat dalam merealisir konsep pendidikan itu pada tujuan yang benar. Yakni upaya sungguh-sungguh (jihad) menciptakan masyarakat yang seluruh aktifitas ritual, sosial, intelektual, dan fisikalnya tunduk kepada tata aturan Maha pencipta alam semesta.

 

  1. C.        Pengertian Korupsi

Asal kata korupsi berasal dari kata corrumpere. Dari bahasa latin inilah kemudian diterima oleh banyak bahasa di Eropa, seperti: dalam bahasa Inggris menjadi corruption atau corrupt, sedangkan dalam bahasa Belanda, menjadi corruptie. Arti harfiah dari korupsi adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, tidak bermoral, penyimpangan arti dari kesucian, dapat disuap. Poerwadarminta  mengartikan korupsi adalah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan sebagainya.

Menurut Robert Klitgaard yang mengupas korupsi dari perspektif administrasi negara, mendefinisikan korupsi sebagai Tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi sebuah jabatan negara karena keuntungan status atau uang yang menyangkut pribadi (perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri); atau melanggar aturan-aturan pelaksanaan menyangkut tingkah laku pribadi.[1]

Sementara definisi korupsi (ghulul) menurut Islam adalah penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan cara sariqoh (pencurian), ikhtilas (penggelapan), al-Ibtizaz (pemerasan), dan suap (risywah) sebagai perbuatan mengkhianati amanah yang diberikan masyarakat kepadanya. Intinya, setiap perbuatan mengambil yang bukan haknya, baik secara terang-terangan atau tersamar termasuk dalam perbuatan korupsi. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa Haram terhadap korupsi. Larangan korupsi ditegaskan di dalam Al-Qur`an, Alloh berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfaal: 27)

Lalu Rosululloh SAW menegaskan hukum berbuat korupsi, sabda Beliau SAW,

“Alloh melaknat orang yang menyuap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi )

Di ayat lain, Alloh memperingatkan siapa yang korupsi maka di akhirat ia akan datang membawa harta hasil korupsinya untuk menerima pembalasannya.

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)

 

  1. D.        Korupsi Dipandang Dari Perspektif Islam

Adanya kasus korupsi atau maraknya aksi pencurian harta negara menandakan bahwa rakyat Indonesia, atau umat Muslim sebagai masyarakat mayoritas di Indonesia, sudah semakin teracuni oleh budaya hedonisme dan paham materialisme. Paham materialisme selalu menempatkan materi yang berupa benda-benda duniawi sebagai ukuran kebahagiaan dan kesuksesan manusia. Seberapa hebat seseorang dilihat dari seberapa banyak duit yang ia punya. Tradisi hedonis adalah gaya hidup yang berlebihan dalam memuja kehidupan dunia. Dalam pemahaman orang hedonis, kehidupan dunia adalah segalanya sedangkan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tidak ada. Orang yang memuja gaya hidup ini sangat jauh dari berkeinginan untuk membantu sesama atau mempedulikan kehidupan sosial di sekitarnya. Orang hedonis atau materialis rela melakukan apa saja untuk mendapatkan harta. Tindakan suap-menyuap, gratifikasi, korupsi atau apapun namanya dianggap legal demi memuluskan keinginan dan hasrat mereka.

Korupsi di negeri ini harus dikikis sedikit demi sedikit melalui pembudayaan kepada seluruh rakyat, terutama umat Muslim yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia, bahwa agama Islam sangat mengutuk tindakan korupsi. Umat Muslim dalam hal ini mencakup baik rakyat awam maupun pemerintah atau pejabat negara yang diamanahi tugas untuk mengatur negara.

Sebagai upaya penyadaran umat Muslim akan hinanya tindak korupsi, umat Muslim hendaknya memperhatikan kembali firman Allah berikut:

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 188).

Teladan mulia yang paling utama bagi umat Muslim, Nabi Muhammad SAW, melarang umat manusia untuk melakukan tindakan suap-menyuap. Beliau bersabda:

“Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan orang yang menjadi perantara di antara keduanya” (HR. Tirmidzi).

Selain itu, Rasulullah SAW juga menyarankan kepada para penguasa untuk memberikan upah atau gaji yang layak kepada para pegawai. Upah yang layak merupakan syarat mutlak bagi terhindarnya suatu negara dilanda badai korupsi. Beliau bersabda:

“Barang siapa yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak punya rumah, maka haruslah ia mendapatkan rumah. Bila ia tidak memiliki istri, maka haruslah ia menikah, bila ia tidak memiliki pembantu maka hendaklah ia mengambil pembantu dan bila ia tidak memiliki hewan tunggangan hendaklah ia memiliki hewan tunggangan. Barang siapa yang mengambil selain itu maka ia telah melakukan kecurangan” (HR Abu Dawud).

Pada riwayat yang lain, beliau bersabda:

“Hai kaum muslimin, siapa saja diantara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Dan kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti” (HR Abu Dawud).

Nabi Muhammad SAW selain menawarkan solusi pemberian gaji yang layak untuk mencegah korupsi dan melarang praktik suap-menyuap, beliau melarang pegawai negeri atau orang yang diamanahi tugas kenegaraan untuk menerima gratifikasi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dikisahkan bahwa Rasulullah SAW memberi tugas kepada seorang lelaki dari Bani Al-Asad yang bernama Ibnu Lutbiyah untuk memungut zakat. Setelah kembali dari menjalankan tugasnya, lelaki tersebut berkata kepada Rasulullah SAW: “(Harta) ini untuk anda dan (harta) ini untukku karena dihadiahkan kepadaku.” Setelah mendengar kata-kata tersebut, Rasulullah SAW naik ke atas mimbar. Setelah mengucapkan puji-pujian ke hadirat Allah, beliau bersabda: “Apakah patut seorang petugas yang aku kirim untuk mengurus suatu tugas mengatakan: “Ini untuk anda dan ini untukku karena memang dihadiahkan kepadaku?” Bukankah lebih baik dia duduk di rumah bapak atau ibunya (tanpa memegang suatu jabatan)? Dan perhatikan apakah dia akan dihadiahi sesuatu atau tidak! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman-Nya, tidaklah seorang di antara kalian (pejabat) memperoleh sesuatu dari (hasil pemberian), kecuali pada Hari Kiamat dia akan datang dengan memikul seekor unta yang sedang melenguh atau seekor lembu atau seekor kambing yang mengembek di atas tengkuknya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah teladan Islam kepada umat Muslim mengenai permasalahan korupsi. Tidak ada sedikit pun dalam ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk memakan harta negara yang tidak haq (benar).

 

  1. E.         Urgensi Pendidikan Islam dalam Memberantas Korupsi

Lalu bagaimana cara memberantas korupsi kelas kakap yang telah mendarah daging? Cara yang paling ampuh dan cepat adalah menggunakan hukum Islam, yaitu potong tangan. Tapi masalahnya, Indonesia bukan negara Islam sehingga tidak bisa menggunakan hukum Islam. Namun, bila kita menggunakan hukum yang ada sekarang maka cara yang paling tepat adalah ada kemauan kuat dari pemerintah untuk tobat, kemudian saling bekerjasama memberantasnya. Sebab, masalah korupsi di Indonesia disebabkan oleh perilaku kelompok, jadi untuk memberantasnya juga harus berkelompok.

Dalam dunia kedokteran, untuk memberantas sebuah penyakit dilakukan dengan lima prinsip. Tiga prinsip diantaranya bisa diterapkan untuk memberantas korupsi, yakni promotif, preventif, dan kuratif.

  1. 1.         Promotif

Promotif artinya pemerintah harus lebih intensif melakukan edukasi kepada generasi muda agar tidak ikut-ikutan budaya korupsi. Edukasi disini bisa lebih diutamakan terhadap pendidikan Islam.

Kita pun harus menyadari betapa pentingnya pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyah) bagi manusia, sehingga pendidikan yang kita lakukan dapat membawakan hasil untuk kejayaan di dunia dan di akhirat. Tarbiyah Islamiyah ini bahkan dapat mengantarkan keberhasilan manusia mengemban amanah dari Allah SWT sebagai khalifah untuk dirinya dan alam semesta.

Pendidikan Islam juga membiasakan manusia untuk hidup dalam suatu komunitas yang saling menjaga dengan nuansa yang hangat dan Islami. Ketika ada yang menyimpang ditegur dengan baik , sehingga lirus kembali. Ketika ada yang kekurangan /membutuhkan dibantu dan ditolong bersama. Sehingga gambaran ideal komunitas muslim seperti zaman Rasul pun mulai terbayang dan optimis ternyata bisa dibentuk. Komunitas sholeh yang berpadu (Q.S Ali Imron : 103). Menuju kemenangan nyata yang hakiki (Q.S Al-Hajj : 77)

  1. 2.         Preventif

Preventif maksudnya melakukan pengawasan secara ketat terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya korupsi. Tindakan ini lebih cocok dilakukan oleh BPK maupun KPK.

  1. 3.         Kuratif

Sedangkan kuratif, yaitu memberikan hukuman yang setimpal sebagai langkah penyembuhan pelaku korupsi. Penerapan langkah ini disesuaikan apakah koruptor perorangan atau kelompok. Kalau dalam syariat Islam, tentu sudah jelas tindakan kuratif dengan cara potong tangan.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Pendidikan Islam perlu dilaksanakan secara berkelanjutan juga karena keimanan manusia yang senantiasa berfluktuasi naik dan turun akibat dosa dan kemaksiatan yang mungkin saja tejadi pada semua manusia. Oleh karena itu, tarbiyah perlu dilaksanakan selama kita masih hidup, karena ia tidak saja membentuk kepribadian muslim tetapi juga meningkatkan dan menjaga nilai-nilai yang telah didapatkan dan dianutnya. Menyeru dan mengarahkan hanya kepada Allah. (Q.S Ali Imron: 79)

Tidak ada sedikit pun dalam ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk memakan harta negara yang tidak haq (benar). Marilah kita hindarkan diri kita dari perilaku korupsi. Sebab, Alquran sebagai representasi perintah Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW, teladan kita yang selalu kita ikuti panutannya, sangat mengutuk keras tindakan korupsi.

 


[1] Jeremy Pope (ed.), Pengembangan sistem Integritas Nasional (Buku Pnduan Transparency International), Grafiti, Jakarta, hal. 90,1999.

LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM

•July 30, 2012 • 1 Comment

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan suatu kebutuhan yang mutlak, yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi untuk maju, sejahtera, bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.

Untuk memajukan kehidupan mereka itulah maka pendidikan menjadi sarana utama yang perlu dikelola secara sistematis dan konsisten.

Untuk itu dalam makalah ini akan disajikan mengenai pendidikan Islam, baik pengertian dan fungsinya, kemudian mengenai lingkungan pendidikan Islam. Dan dengan adanya penjabaran mengenai pendidikan Islam, kami berharap akan membawa manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca semua pada umumnya.

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian dari pendidikan Islam?
  2. Apa fungsi dari pendidikan Islam?
  3. Apa sajakah lingkungan pendidikan Islam?

 

C.    Tujuan Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah di  atas, maka tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk memahami pengertian dari pendidikan Islam
  2. Untuk memahami fungsi dari pendidikan Islam
  3. Untuk memahami lingkungan pendidikan Islam

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Islam

Di dalam Al-Qur’an, terdapat kata-kata yang terkait dengan pendidikan, yakni: “ Rabba, ‘allama.

وا حفض لهما جناح الذل من الرحمة و قل ربّ إرحمهما كما ربّيا نى صغيرا ( الإسراء : 24 )

 

“ . . . . . Sayangilah keduanya ( orang tuaku ) sebagaimana mereka telah mengasuhku ( mendidikku ) sejak kecil.”  ( Q.S. Al-Isra’ : 24 )[1]

 

علم الإنسان ما لم يعلم ( العلق : 5 )

“ Dia yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “. ( Q.S. Al-Alaq : 5 )

Dalam bahasa Arab, kata Rabba dan ‘Allama mengandung pengertian sebagai berikut:

  1. Kata kerja Rabba, Artinya mengasuh, mendidik
  2. Kata kerja ‘Allama, masdarnya ta’liman berarti mengajar.

Jadi dari kedua ayat Al-Qur’an di atas, dapat diambil sebuah pengertian bahwa pendidikan Islam itu adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia, serta sumber daya manusia manuju terbentuknya manusia yang seluruhnya sesuai dengan syari’at Islam.[2]

Konsep manusia seutuhnya dalam pandangan Islam dapat diformulasikan secara garis besar sebagai pribadi muslim, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa serta memiliki berbagai kemampuan yang teraktualisasi dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan secara baik, positif dan konstruktif.

Demikianlah kualitas produk pendidikan Islam yang diharapkan pantas menjadi Khalifatullah fil ardhi.

 

 

 

 

B.     Fungsi Pendidikan Islam

Dengan adanya pengertian pendidikan Islam seperti telah dijelaskan di atas, fungsi pendidikan Islam sudah cukup jelas, yaitu memelihara dan mengembangkan fitroh dan sumber daya manusia menuju terbentuknya manusia yang sempurna.[3]

Untuk memperjelas fungsi pendidikan Islam, dapat ditinjau dari fenomena yang muncul dalam perkembangan peradapan manusia, dengan asumsi bahwa peradapan manusia senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.

Dalam kajian Antropologi dan Sosiologi, diketahui ada 3 fungsi pendidikan, yakni:

  1. Mengembangkan wawasan subyek didik mengenai dirinya dan alam sekitarnya, sehingga akan muncul kemampuan membaca.
  2. Melestarikan nilai – nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupannya.
  3. Memasuki pintu ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan kemajuan hidup ( individu maupun sosial ).[4]

Apabila dari kajian Antropologi dan Sosiologi tersebut dikembalikan pada sudut pandang Al-Qur’an sebagai sumber utama pendidikan Islam, maka fungsi pertama dan terutama pendidikan Islam adalah memberikan kemampuan membaca ( Iqra’ ) pada peserta didik. Perintah membaca yang ditulis dalam Q.S Al-Alaq ayat pertama, bukanlah hanya sekedar membaca sebuah tulisan saja, namun membaca fenomena alam dan peristiwa dalam kehidupan.

Sampai disini lebih memperkuat lagi paradigma hubungan humanisme teosentris pendidikan Islam, karena kemampuan membaca sebagai unsur humanisme yang didasari dengan kekuatan spiritual Ilahiyah ( teosentrialisme ) yaitu “ membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan manusia “

 

( إقرأ بسم ربّك الّذى خلق )

 

Dengan mengembalikan kajian Antropologi juga sosiologis ke dalam perspektif Al-Qur’an, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Islam adalah:

a)      Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya dan juga mengenai kebesaran Illahi, sehingga tumbuh kemampuan membawa fenomena alam dan kehidupan, Serta memahami hukum – hukum yang terkandung di dalamnya. Dengan kemampuan ini akan meningkatkan kreativitas dan produktivitas sebagai implementasi identifikasi diri pada Tuhan “ Pencipta “.

b)      Membebaskan manusia dari segala anasir yang dapat merendahkan martabat manusia, baik yang timbul dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar.

c)      Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individu maupun social.[5]

 

C.    Lingkungan Pendidikan Islam

Dalam GBHN ( Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978 ) berkenaan dengan pendidikan dikemukakan:  “Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.”[6]

Dari ketetapan – ketetapan MPR tersebut, maka lingkungan pendidikan adalah Keluarga, sekolah, dan masyarakat.

  1. 1.        Keluarga

Keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan juga utama. Karena itu peran dan pengaruh keluarga sangatlah esensial bagi perkembangan anak. Apa yang diberikan dan dilakukan oleh keluarga akan menjadi sumber perlakuan pertama yang akan mempengaruhi pembentukan karakteristik perilaku dan pribadi anak. Perlakuan pada masa awal kehidupan anak yang terjadi dalam keluarga sangat memegang peran kunci dalam pembentukan struktur dasar kepribadiannya tersebut.

Sebagian besar waktu anak akan dihabiskan di keluarga, jika kesempatan yang banyak diisi dengan hal-hal yang positif, maka akan memberikan kontribusi yang positif pula untuk anak. Karakteristik hubungan orang tua dan anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak-pihak lainnya di sekitar mereka. Kepada orang tua, selain si anak memiliki ketergantungan secara materi, ia juga memiliki ikatan psikologis tertentu yang sejak dalam kandungan telah dibangun melalui jalinan kasih sayang dan pengaruh-pengaruh normatif tertentu. Interaksi kehidupan orangtua-anak mewujudkan keadaan yang apa adanya dan bersifat “asli”, tidak seperti hubungan anak dengan gurunya yang mungkin akan selalu menekankan formalitas karena terikat oleh posisi guru yaitu sebagai pendidik yang harus selalu bisa membangun keadaan yang wajar dengan nasihat-nasihat baiknya.

Sedangkan Pengaruh keluarga akan sangat bervariasi tergantung pada bentuk, kualitas, dan intensitas perlakuan yang terjadi serta pada kondisi anak itu sendiri. Namun prinsip-prinsip yang dimiliki orang tua untuk bahan rujukan dalam membimbing anak tersebut tidaklah boleh terlepas dari unsur-unsur pribadi anak yang unik. Peran keluarga lebih banyak bersifat memberikan dukungan baik dalam hal penyediaan fasilitas maupun penciptaan suasana belajar yang kondusif.

Sedangkan Dalam hal pembentukan perilaku, sikap dan kebiasaan, penanaman nilai, dan perilaku-perilaku lainnya pengaruh keluarga sangatlah kuat dan bersifat langsung. Keluarga berfungsi sebagai lingkungan kehidupan nyata dalam pengembangan aspek-aspaek perilaku tersebut. Enam hal yang dimungkinkan bisa dilakukan orang tua dalam mempengaruhi anak, yaitu:

  1. Peneladanan perilaku baik secara langsung maupun tidak langsung
  2. Memberiakan ganjaran atau hukuman, seperti pujian dan teguran
  3. Perintah langsung
  4. Menyatakan peraturan-peraturan
  5. Penalaran, dan
  6. Menyediakan fasilitas atau bahan-bahna dan adegan suasana, seperti membeliakn buku-buku yang diminati anak untuk proses belajarnya.

Keenam cara tersebut juga bisa dilakukan oleh guru dan teman-teman, namun bagaimanapun hubungan orang tua dan anak berbeda dari guru atau orang lain di sekitarnya.

Pada umumnya setiap orang tua memiliki gaya atau pola asuh yang berbeda-beda dalam mensikapi anak-anaknya. Orang tua yang otoriter akan menerapkan seperangkat peraturan bagi anaknya secara ketat dan sepihak. Orang tua yang permisif akan cenderung memberikan banyak kebebasan kepada anaknya dan kurang memberikan kontrol. Sedangkan orang tua yang otoritatif akan memberikan seperangkat peraturan yang jelas yang akan dilakukan dengan pemahaman, bukan paksaan. Sehingga peraturan-peraturan yang diberikan akan dimengerti si anak dengan pengontrolan orang tua dalam suasana hubungan yang hangat dan dialog yang terbuka.

  1. 2.        Sekolah

Selama kurang lebih lima sampai dengan enam jam, umumnya anak berada di sekolah yang bukan hanya hadir secara fisik, namun juga mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah diprogram oleh sekolah. Dengan demikian, sekolah memiliki konribusi yang sangat berarti dalam hal perkembangan anak. Pengalaman interaksi anak dengan gurunya di sekolah akan lebih bermakna bagi anak daripada dengan orang dewasa lainnya. Luasnya lautan ilmu pengetahuan dan aspek-aspek kehidupan manusia lainnya semakin mengukuhkan keterbatasan orang tua dalam mendidik anaknya.

Mengikuti kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan proses penegembangan kognisi anak merupakan kegiatan utama mereka di sekolah. Perkembangan kognisi anak yang bersekolah akan berbeda dengan mereka yang tidak bersekolah . Interaksi pendidikan di sekolah tidak hanya berkenaan dengan perkembangan kognisi anak, namun juga berkenaan dengan perkemangan aspek-aspek pribadi lainnya. Sekolah akan membatasi dan mendefinisikan perilaku, perasaan, dan sikap anak. Di sekolah, mereka akan menemukan perkembangan identitas, keyakinan atau kemampuan diri, image tentang kehidupan dan kemungkinan karir, hubungan-hubungan sosial, serta standar perilaku yang benar dan salah. Semakin cocok antara budaya sekolah dengan nilai-nilai dan harapan-harapan anak, maka akan semakin positif dampak sekolah terhadap perkembangan anak.

Jelaslah fungsi dan tujuan sekolah, yaitu sebagai lembaga yang memfasilitasi proses perkembangan anak secara menyeluruh sehingga mereka dapat berkembang secara optimal sesuai dengan harapan-harapan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, serta berperan dalam hal pengembangan aspek sosiomoral dan emosi anak dengan kemampuan guru dalam mendidik dan karakteristik-karakteristik pribadi yang sesuai dalam lingkungan pendidikan dan masyarakat.

  1. 3.      Masyarakat

Anak-anak bergaul dalam masyarakat, di sana mereka menyaksikan berbagi peristiwa, di sana mereka melihat orang-orang berperilaku, dan di sana pula mereka akan selalu menemukan sejumlah aturan dan tuntutan yang seyogyanya dipenuhi oleh yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang didapat anak-anak dalam masyarakat tersebut akan memberikan kontribusi tersendiri dalam pembentukan perilaku dan perkembangan pribadinya. Lingkungan masyarakat akan mendukung apa yang telah dikembangkan orang tua di rumah dan guru di sekolah, dan begitu sebaliknya. Jika rumah dan sekolah telah mengembangkan suatu budaya atau nilai yang relevan dengan apa yang dikembangkan di mayarakat , maka sangat mungkin akan muncul pengaruh yang saling mendukung, sehingga peluang pencapaiannyapun akan sangat besar.

Diperlukan ikatan ikatan psikologis yang kuat antara keluarga dengan anak, sehingga keluarga akan selalu dipercaya sebagai tempat yang baik untuk membicarakan dan memahami berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Karena jika ditanya “siapa penanggung jawab kondisi dalam masyarakat?”, pada akhirnya tanggung jawab tersebut akan kembali pada keluarga masing-masing. Baik tidaknya suatu masyarakat akan sangat bergantung pada keluarga-keluarga yang membangun masyarakat tersebut. Orang tua juga harus membimbing anaknya dalam hal pergaulan anak dengan teman sebayanya dan menjaga anak dari pengaruh negatif media informasi yang akhir-akhir ini perannya sangat dominan dalam masyarakat.

 

 


[1] Ahmad, Ideologi Pendidikan Islam, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005 ), h. 24

[2] Ibid, h. 28

[3] Ibid, h. 30

[4] Ibid, h. 33

[5] Ibid, h. 36

[6] Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006 ), h. 34

SALMAN AL-FARISY

•April 7, 2012 • Leave a Comment

Sesungguhnya sesiapa yang mencari kebenaran, pasti akan menemuinya. Kisah ini adalah kisah benar pengalaman seorang manusia mencari agama yang benar (hak), iaitu pengalaman Salman Al Farisy

Marilah kita semak Salman menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang hak itu. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lebih lengkap, terperinci dan lebih terpercaya. seorang sahabat Rasulullah saw.

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman, “Saya pemuda Parsi, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku adalah insan yang paling disayangi ayah sejak dilahirkan. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga kerana teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis.

Aku mengabdikan diri dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku).  Aku ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami supaya api tersebut sentiasa menyala.

Ayahku memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Kerana itu beliau menetap di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapa pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Beliau berkata kepadaku, “Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Kerana itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapa.”

Aku pergi ke kebun kami. Dalam perjalanan ke sana aku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang sembahyang. Suara itu sangat menarik perhatianku.

Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Kerana selama ini aku dikurung bapa di rumah, tidak boleh bergaul dengan siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk masuk ke gereja itu  dan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Aku kagum dengan cara mereka bersembahyang dan ingin menyertainya.

Kataku, “Demi Allah! ini lebih bagus daripada agama kami.”Aku tidak berganjak dari gereja itu sehinggalah petang. Sehingga aku terlupa untuk ke kebun.

Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”

“Dari Syam (Syria),” jawab mereka.

Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapa bertanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.

Jawabku, “Wahai, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Kerana itu aku berada di gereja mereka sampai petang.”

Bapa menasihati akan perbuatanku itu. Katanya, “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!”

Jawabku, “Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”

Bapa khuatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Kerana itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.

Ketika aku beroleh kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka untuk memaklumkan kepadaku andai ada kafilah yang  akan ke Syam supaya memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku.

Maka aku berusaha untuk membebaskan diri daripada rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam.

Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”

“Uskup yang menjaga “jawab mereka.

Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi pelayan anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama anda.”

‘Masuklah!” kata Uskup.

Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan.

Setelah beberapa lama aku berbakti kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama’ahnya bersedekah dan mendorong umatnya beramal pahala. Bila sedekah mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam perbendaharaannya dan tidak dibahagi-bahagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya telah berkumpul sebanyak tujuh peti emas.

Aku sangat membencinya kerana perbuatannya yang mengambil kesempatan untuk mengumpul harta dengan duit sedekah kaumnya. tidak lama kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.

Aku berkata kepada mereka, ‘Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin.”

Tanya mereka, “Bagaimana kamu tahu demikian?”

Jawabku, “Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.”

Kata mereka, “Ya, tunjukkanlah kepada kami!”

Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, “Demi Allah! Jangan dikuburkan dia!”

Lalu mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka lempari dengan batu. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihat orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Kerana itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, “Wahai guru! Kepada siapa guru mempercayakanku seandainya guru meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggalan guru?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!”

Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal itu.

Kata pendeta Mosul, “Tinggallah bersama saya.”

Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, “Sebagaimana guru ketahui, mungkin ajal guru sudah dekat. Kepada siapa guru mempercayai seandainya  guru sudah tiada?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Hubungilah dia!”

Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku serta pesan pendeta Mosul.

Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami!”

Setelah aku tinggal di sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar dengannya sehinggalah beliau wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu perihalku maka kepada siapa harusku berguru seandainya guru meninggal?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Hubungilah dia!”

Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka kuceritakan kepadanya pengalamanku.

Katanya, “Tinggallah bersama kami!

Dengan petunjuknya, aku tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu urusanku. Maka kepada siapakah lagi aku akan anda percayai seandainya  guru meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?”

Katanya, “Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim.

Kemudian dia akan berpindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mahu menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mahu menerima dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia!”

Setelah pendeta Amuria itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu segerombolan saudagar Arab dan kabilah “Kalb” lewat di sana. Aku berkata kepada mereka, “Jika kalian mahu membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.”

Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau ke sana.”

Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura aku ditipu oleh mereka. Aku dijual kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak saudara majikanku datang mengunjunginya, iaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya daripada majikanku.

Aku berpindah  ke Yastrib dengan majikanku yang baru ini. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.

Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi baginda masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da’wah yang baginda sebarkan kerana aku terlalu sibuk dengan tugasku sebagai hamba.

Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah saw. berpindah ke Yastrib. Demi Allah! Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak saudaranya mengatakan, “Biar mampus Bani Qaiah!( kabilah Aus dan Khazraj) Demi Allah! Sekarang mereka berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan lelaki dari Makkah yang mendakwa dirinya Nabi.”

Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil kerananya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku akan menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Apa kabar anda? Cubalah khabarkan kembali kepadaku!”

Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!”

Keesokannya aku mengambil buah kurma seberapa banyak yang mampu kukumpulkan. Lalu kubawa ke hadapan Rasulullah saw..

Kataku “Aku tahu tuan orang soleh. Tuan datang bersama-sama sahabat  tuan sebagai perantau. Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekahkan kepada tuan. Aku lihat tuanlah yang lebih berhak menerimanya daripada yang lain-lain.” Lalu aku hulurkan kurma itu ke hadapannya.

Baginda berkata kepada para sahabatnya, “silakan kalian makan,…!” Tetapi baginda tidak menyentuh sedikit pun makanan itu apalagi untuk memakannya.

Aku berkata dalam hati, “Inilah satu di antara ciri cirinya!”

Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang terdaya kukumpulkan. Ketika Rasulullah saw. pindah dari Quba’ ke Madinah, kubawa kurma itu kepada baginda.

Kataku, “Aku lihat tuan tidak mahu memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk tuan.”

Rasulullah saw. memakan buah kurma yang kuhadiahkan kepadanya. Dan baginda mempersilakan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengannya. Kataku dalam hati, “ini ciri kedua!”

Kemudian kudatangi baginda di Baqi’, ketika baginda menghantar jenazah sahabat baginda untuk dimakamkan di sana. Aku melihat baginda memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada baginda, aku berjalan mengekorinya sambil melihat ke belakang baginda untuk melihat tanda kenabian yang dikatakan guruku.

Agaknya baginda mengetahui maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti belakangnya, sehingga aku melihat dengan jelas tanda kenabiannya.

Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang baru diutus itu. Aku terus memeluk bagindanya, lalu kuciumi dia sambil menangis.

Tanya Rasulullah, “Bagaimana khabar Anda?”

Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat baginda. Lalu kuceritakan pula kepada mereka. Mereka sangat kagum dan gembira mendengar kisah pengalamanku.

Berbahagilah Salman Al-Farisy yang telah berjuang mencari agama yang hak di setiap tempat. Berbahagialah Salman yang telah menemukan agama yang hak, lalu dia iman dengan agama itu dan memegang teguh agama yang diimaninya itu. Berbahagialah Salman pada hari kematiannya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali kelak.

Salman sibuk bekerja sebagai hamba. Dan kerana inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah saw. suatu hari bersabda kepadaku, “Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!” Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dan bersabda, “Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.” Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, setiap orang sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah saw. bersabda kepadaku, “Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.”

Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah saw. dan memberitahukan perihalku, Kemudian Rasulullah saw. keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada baginda dan Rasulullah  saw. pun meletakkannya di tangan baginda. Maka, demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah dipenuhi, aku masih mempunyai tanggungan wang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah  saw. membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas baginda bersabda,  “Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?”

Kemudian aku dipanggil baginda, lalu baginda bersabda,  “Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!”

“Wahai Rasulullah saw., bagaimana status emas ini bagiku? Soalku inginkan kepastian daripada baginda.

Rasulullah menjawab, “Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya.” Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah saw. dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.’

(HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabrani dalam al-Kabir(6/222); lbnu Sa’ad dalamath-Thabagat, 4/75; al-Balhaqi dalam al-kubra, 10/323.)

AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

•April 6, 2012 • Leave a Comment

EINSTEIN DAN AGAMA

Bagi Einstein, tidak terbayangkan ada ilmuwan yang tidak punya keimanan yang mendalam. Makin jauh kita masuk pada rahasia alam, makin besar kekaguman dan penghormatan kita kepada Tuhan. Einstein melihat Tuhan dalam keanggunan alam semesta yang menakjubkan. Ketakjubannya pada penemuan sains membawa Einstein kepada Tuhan. Jika pandangan agamanya mempengaruhi pemikiran ilmiahnya, pada gilirannya pemikiran ilmiahnya mewarnai pandangan agamanya. Einstein menyatakan bahwa Tuhan tidak lagi personal dalam pengertian Tuhan dipandang dalam citra manusia. Tuhannya adalah Tuhan superpersonal (Susserpersonlichen) yang dibebaskan dari belenggu Tuhan yang “ semata-mata personal” (Nur-Personlichen), atau yang merupakan ungkapan keinginan-keinginan sendiri.

 

INTEGRASI

Muthahhari, dalam Manusia dan Agama, menulis:

Sejarah telah membuktikan bahwa pemisahan sains dari keimanan telah menyebabkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi. Keimanan mesti dikenali lewat sains; keimanan bisa tetap aman dari berbagai takhayul melalui pencerahan sains. Keimanan tanpa sains akan beraktibat fanatisme dan kemandekan. Jika saja tak ada sains dan ilmu, agama, dalam diri penganut-penganutnya yang naif, akan menjadi suatu instrumen di tangan-tangan para dukun cerdik.

Persahabatan antara ilmu pengetahuan dan agama, seperti yang disarankan Muthahhari, dalam cerita sufi (juga Einstein) adalah kerja sma antara si lumpuh dan si buta. Ilmu pengetahuan tanpa bantuan agama, akan terpaku pada tempat duduknya. Ia hanya mempu melihat apa yang berada di sekitarnya. Tanpa ilmu pengetahuan, orang yang beragama akan cenderung mempercayai apa saja.

TEILHARD DE CHARDIN

Ian Barbour (1990) menyebut dua contoh cara untuk memadukan ilmu pengetahuan dan agama, yaitu:

  1. Teologi alamiah (natural theology) merupakan teologi yang berpijak pada agama dan memperkuat ajaran agama dengan bukti-bukti ilmiah.
  2. Teologi alam (theology of nature) yaitu teologi yang berpijak pada ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk merekonstruksi kembali doktrin-doktrin agama.

Teilhard de Chardin ialah sebagai ilmuwan yang menggabungkan kedua teologi tersebut.

Hal-hal yang berhubungan dengan Teilhard :

  1. Ia dilarang mengajar atau berbicara di hadapan umum berkaitan dengan masalah keagamaan; ia diusir dari tanah airnya.
  2. Ia menggerakan gerakan pembaruan yang akhirnya berkembanga pada era Vatikan II
  3. Ia mengusulkan program merekonstruksi sains. Ia menyampaikan kritik sistematis pada sains tradisional.
  4. Ia menimbulkan reaksi keras dalam komunitas ilmiah
  5. Teilhard menulis “buku kecil tentang kesalehan”
  6. Sebagai ilmuwan, ia berpendapat bahwa sumber utama kebenaran agama harus dicari di dunia materi, bukan di magisterium gereja.

 

KONFLIK

GALILEO DAN BELLARMINE

Galileo menjadi korban yang paling sering diperingati dalam peperangan antara sains dan agama. Pandangan Galileo jelas dan tidak dibuat-buat. Dengan teleskopnya yang baru disempurnakan, ia menemukan hal-hal yang tampaknya bertentangan dengan ajaran Alkitab.

 

HUXLEY DAN WILBURFORCE

Darwin mengatakan bahwa manusia bukan lagi keturunan nabi yang ditempatkan disurga. Ia tidak turun dari langit. Ia turun dari monyet.

Teori evolusi menjadi ajang peperangan antara sains dan agama. Sains menuduh agama ketinggalan kereta dan agama menyereang sains sebagai musuh Tuhan.  Menurut Ian Barbour (1990), dari pihak sains pandangan ini diwakili oleh materialisme ilmiah; dan dari pihak agama oleh literalisme biblikal.

 

Skripturalisme

Kaum skripturalis memandanga penjelasan agama yang diwakili oleh pemahaman harfiah pada Kitab Suci sebagai kebenaran tertinggi.

Maurice Bucaille (2001) melakukan penelitian tentang Bibel, Al-Quran, dan sains moder, La Bible, Le coran et la science. Ia sampai pada kesimpulan bahwa sebagian dari Bibel bertentangan dengan sains, sebagian hadis bertentangan dengan sains, tetapi tidak satu pun ayat Al-Quran yang dibohongkan sains. Jika terjadi konflik antara sains dan Al-Quran, kita harus menyntingnya degnan mengatakan konflik antara sains dan sebagian terjemahan Al-Quran.

 


 

Sains Modern

Agama bercerita tentan galam semesta. Begitu pula sains. Menurtut cerita agama-agama Barat, Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari. Agama-agama Timur tidak menerima cerita itu. Sains bercerita tentang The Big Bang dan evolusi. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah, kebenaran cerita ini diterima semua orang.

Keimanan yang berlebihan pada sains disebut positivisme. Positivisme didefinisikan sebagai “satu keluarga filsafat yang ditandai dengan penilaian yang sangat positif pada sains dan metode ilmiah” (Reese, 1980;480). Sebagai alirat filsafat, positivisme ditegakkan diata asumsi-asumsi :

  1. A.        Asumsi Metafisis

Secara metafisis, positivisme mengasumsikan :

  1. Naturalisme yaitu kepercayaan metafisis bahwa manusia dan alam semesta dapat dipahami dan akhirnya dijelaskan tanpa memasukkan unsur “Tuhan” atau “wujud tertinggi” dalam teori-teori ilmiah.
  2. Determinisme merupakan kepercayaan bahwa setiap kejadian di alam semesta seluruhnya ditentukan dan dikondisikan oleh sebab-sebab alamiah yang terjadi sebelumnya.
  3. Reduksionisme adalah kepercayaan bahwa “keseluruhan dapat dipahami secara sempurna dengan menganalisis bagian-bagian”

Reduksionisme bercabang menjadi tiga yaitu:

  1. Atomisme yaitu pandangan bahwa objek material pengamatan dan pengetahuan kita dengan sendirinya dapat dipisahakan atau dibagi-bagi ke dalam variabel, konsruk, dan hukum-hukum yang lebih kecil dan dianggap lebih pokok dari bagian-bagian yang lebih besar.
  2. Mekanisme yaitu kepercayaan bahwa manusia, dunia dan alam semesta mirip sebuah mesin, yang terdiri dari bagian-bagian keci, yang bekerja sama secara tertib dan kerja sama keseluruhannya itu ditentukan dan diniscayakan secara hukum.
  3. Materialisme yaitu pandangan bahwa materi adalah realitas asasi di dunia, dan apa saja yang bergantung pada materi.
  4. B.        Asumsi Aksiologis

Merupakan cabang filsafat yang membahas teori nilai. Sains modern ditegakkan pada dua asumsi aksiologis yaitu:

  1. Relativisme etis, yaitu kepercayaan aksiologis bahwa tidak ada prinsip-prinsip yang absah secara univesal, karena setiap prinsip moral hanya absah secara relatif dengan pilihan kultural atau individual.
  2. Hedonisme etis, adalah kepercayaan bahwa kita selalu berusaha untuk mencari kesenangan kita sendiri dan bahwa kebajikan tertingi bagi kita adalah kesenangan yang paling tinggi dengan derita yang paling sedikit.

 

  1. C.        Asumsi epistemologis yang khas

Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari sifat, sumber, valitiditas, dan batas-batas pengetahuan. Sains modern menganut positivisme. Positivisme berkaitan dengan dua asumsi yaitu:

  1. Realisme Klasik, disebut juga realisme naif, menyatakan bahwa alam semesta itu ada tanpa bergantunga pada kesadaran manusia.
  2. Empirisme, adalah kepercayaan epistemologis “bahwa pengalaman indra kita-melihat, menyentuh, mendengar, mencium, mengeecap- memberikan kepda kita pengetahuan yang terpercaya tentang dunia.”

 

INDEPENDENSI

Para penganut independesi percaya bahwa agama dan sains punya wilayah yuridiksi masing-masing. Keduanya harus hidup bersanding, bukan bertanding. Sains tidak boleh memasuki wilayah agama, sebagaimana agama juga tidak boleh melakukan intervensi dalam wilayah sains.

 

Murtadha Muthahhari membedakan antara peradaban Barat, yang memilah-milah era agama dan era sains, dan peradaban Islam yang memadukan keduanya.

Muthahhari mengajak kita merenungkan sumbangan keduanya bagi kemanusiaan:

  1. Sains memberi kita kekuatan dan pencerahan, dan keimanan memberikan cinta, harapan dan kehangatan.
  2. Sains menciptakan teknologi, dan keimanan menciptakan tujuan.
  3. Sains memberi kita momentum, dan keimanan memberi kita arah.
  4. Sains berarti kemampuan, dan keimanan adalah kehendak baik.
  5. Sains menunjukkan kepada kita apa yang ada di sana sementara keimanan mengilhami kita tnetang apa yang mesti kita kerjakan.
  6. Sains adalah revolusi eksternal, dan keimanan adalah revolusi internal.
  7. Sais menjaikan dunia tampak ramah bagi kita, sedangkan keimanan mengungkit ruh manusia.
  8. Sains memperluas manusia secra horizontal, dan keimanan meningkatkannya secra vertikal.
  9. Sains membetnuk kembali alam, dan keimanan mencetak manusia.
  10. Baik sains maupun keimanan memberi kekuatan kepada kemanusiaan.
  11. Yang diberikan oleh sains kepada manusia adalah kektuatan yang lepas, tetapi keimanan memberinya suatu kekuatan yang kukuh.
  12. Sains adalah keindahan kebijaksanaan, dan keimanan adalah ruh.
  13. Sains dan keimanan memberi manusia kepastian atau penwar bagi kegelisahan, kesepian, ketakberdayaan, dan absurditas.
  14. Sains menyelaraskan manusia dengan sang diri.

Para penganut indpendesi melihat hubungan keduanya dari perbedaan metode dan bahasa

  1. A.        Perbedaan Metode

Pada abad pertengahan, orang membedakan antara kebenaran yang diwahyukan dan kebenaran yang ditemukan, revealed truth dan human discovery. Agama didasarkan pada kebenaran yang kita temukan dalam kitab suci the Scripture. Ilmu pengetahuan didasarkan pada kebenaran yang ditemukan manusai melalui akal dan pengamatan pada alam semesta, the nature. Di dunia Islam, dibedakan antara ayat-ayat Quraniyyah dan ayat-ayat Kauniyyah. Tanda-tanda Tuhan yang pertama dipahami melalui agama, dan tanda-tanda Tuhan yang kedua dipahami melalui sains.

Menurut Al-Ghazali manusia terdiri dari dua dimensi yaitu: khalq yang terlihat dan khulq yang tak terlihat.

Longdon Gilkey, dalam kesaksiannya, menjelaskan perbedaan antara sains dan agama :

  1. Sains berusaha menjelaskan data yang objektif, publik dan dapat diulangi. Agama mempertanyakan adanya keteraturan dan keindahan di dunia dan pengalaman hidup batiniah kita, seperti perasan bersalah, kecemasan, dan kehilangan makna, pada satu sisi, serta memaafkan, percaya, dan kesempurnaan, pada sisi yang lain.
  2. Sains mengajukan pertanyaan yang objektif, how questions. Agama mengajukan pertanyaan personal, why question, berkenaan dengan makna, tujuan, dan asal-usul serta nasib terakhir kita.
  3. Basis otoritas sains terletak pada koherensi logis dan kecermatan eksperimental. Otoritas terakhir dalam agama ada pada Tuhan dan wahyu yang dapat dipahami melalui orang-orang yang telah diberi pencerahan dan pandangan batin, dibuktikan keabsahannya dengan pengalaman kita sendiri.
  4. Sains membut ramalah kuantitatif yang dapat diuji secara eksperimental. Agama harus menggunakan bahasa analogis dan simbolis karena Tuhan bersifat transenden.

 


 

  1. B.        Perbedaan Bahasa

Perbedaan keempat yang disebutkan Gilkey berkaitan dengan bahasa. Jika agama menggunakan bahasa analogis dan simbolis, sains menggunakan bahasa logis dan empiris.

Menurut para anlis linguistik, bahasa yang berbeda mempunyai fungsi yang berbeda. Sains dan agama melakukan tugas yang berbeda, masing-masing tidak dapat dinilai dengan standar yang lain. Menurut Dr. Jeffrey Lewis dan Dr.Christopher Ellison, kterlibatan dalam kegiatan agama berkorelasi secara positif dengan kesehatan jiwa.

Sains hanya mmpu melakukan pengamatan pada apapun yang bisa iukur, sains tidak bisa dipaksa. Biarkan sain menjwab pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan biarkan agama menanggapi masalah-masalah agama.

Komentar Barbour untuk macam-macam opsi independensi

“Jika sains dan agama betul-betul independen, kemungkinan konflik dapat dihindari, tetapi kemungkinan adanya dialog konstruktif dan saling memperkaya akan dihilangkan juga. Kita tidak mengalami hidup sebagai petak-petak yang dipisahkan secara rapi; kita mengalaminya dalam keseluruhan dan dalam keterkaitan satau sama lain sebelum kita mengembangkan disiplin tertentu untuk memahami aspek-aspeknya yang berbeda. Ada dasar dalam Kitab Suci untuk keyakinan bahwa Tuhan adalah Pangeran bagi seluruh kehidupan kita dan Tuhan alam semesta, bukan hanya penguasa pada lingkungan ‘agama’ saja.”