URGENSI PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PEMBERANTASAN KORUPSI

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.        Latar Belakang

Istilah takwa sering diartikan dengan upaya untuk melakukan perintah Allah SWT semampu kita, sekaligus pada saat yang bersamaan tidak melakukan larangan-Nya semampu kita pula. Di antara aplikasi ajaran takwa adalah sikap kehati-hatian untuk mendapatkan, mengumpulkan, dan membelanjakan harta. Harta yang kita miliki di dunia tidak kalah berat pertanggungjawabannya dibandingkan dengan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Rasulullah, dalam sebuah riwayat hadis, mengabarkan kepada sahabat Ka’ab bin Ujrah tentang pertanggungjawaban manusia kelak di akhirat:

“Wahai Ka’ab bin Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, dan neraka lebih pantas baginya” (HR. Ahmad).

Hadis tersebut menyiratkan betapa berharganya status ‘halal’ selalu melekat pada segala sesuatu yang kita miliki. Sabda Nabi SAW tersebut juga mengingatkan kita betapa harus berhati-hatinya kita ‘mengkonsumsi’ dan memanfaatkan segala sumberdaya yang dianugerahkan kepada kita. Jika satu teguk saja minuman haram atau satu suap saja makanan haram tercerna di dalam tubuh kita, ancaman neraka telah didengungkan oleh Rasulullah. Jika satu lembar kertas saja atau satu batang pensil saja yang kita gunakan adalah didapatkan dari cara yang haram, maka kabar dari Nabi SAW tersebut sudah siap menghantui kita.

Sangat disayangkan, kehati-hatian dalam memperoleh atau memanfaatkan harta dunia seakan sudah tidak dipentingkan lagi oleh umat manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai berbagai golongan manusia yang tidak menghiraukan cara-cara yang baik dalam mendapatkan harta. Dari level preman yang memalak para pelajar atau para penumpang angkutan umum, para pencuri yang tertangkap kamera pengintai, para pegawai negeri yang menggunakan waktu jam kerja untuk keperluan pribadi, hingga para pejabat negara yang melakukan tindak pencurian harta negara atau yang lazim kita kenal dengan korupsi.

Setiap hari berbagai media informasi tidak pernah sepi dari pemberitaan kasus korupsi. Yang meresahkan adalah para pihak yang dituduh melakukan tindakan korupsi ialah umat Muslim. Secara tidak langsung identitas Muslim atau agama Islam secara umum menjadi terpuruk reputasinya di mata publik. Publik layak untuk mengatakan, “Lihat saja itu para koruptor, kebanyakan adalah orang Islam”. Orang-orang awam menjadi berpandangan, “Apa tidak ada anjuran dalam agama Islam kepada umatnya untuk tidak korupsi?”

 

  1. B.        Rumusan Masalah

Dari latar belakang dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah diantaranya:

  1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan Islam?
  2. Bagaimana karakteristik pendidikan Islam?
  3. Apakah yang dimaksud dengan korupsi?
  4. Bagaimana pandangan korupsi dalam perspestif Islam?
  5. Pentingkah pendidikan Islam terhadap pemberantasan korupsi?

 

  1. C.        Tujuan
    1. Mengetahui pengertian pendidikan Islam
    2. Mengetahui karakteristik pendidikan Islam
    3. Mengetahui pengertian korupsi
    4. Mengetahui pandangan islam terhadap korupsi
    5. Mengetahui urgensi pendidikan islam terhadap pemberantasan korupsi

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.        Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan begitu pula pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan.

Dengan pendidikan Islam itu mereka akan terlatih dan secara mental sangat berdisiplin sehingga mereka ingin memiliki pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu intelektual atau hanya manfaat kebendaan yang bersifat duniawi, tetapi juga untuk tumbuh sebagi makhluk yang rasional, berbudi dan menghasilkan kesejahteraan spiritual, moral dan fisik keluarga mereka, masyarakat dan umat manusia.

Pendidikan Islam yang memiliki tujuan besar dan universal ini, bukan berlangsung temporal, tapi dilakukan secara berkesinambungan. Artinya tahapan-tahapannya sejalan dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas-batas tertentu, terhitung sampai dunia ini berakhir.

Pendidikan yang memiliki makna demikian ini adalah menjadi tujuan terpenting dalam kehidupan, baik secara individu maupun keseluruhan. Kita telah memahami, sasaran pendidikan dan pembinaan ini adalah kemaslahatan umat. Dengan demikian asas yang paling hakiki dari sebuah pendidikan adalah mencapai keridhaan Allah SWT, seperti termaktub dalam firman Allah :

Tidak wajar bagi seorang manusia yang Alloh berikan kepadanya Al Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, `hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.` Akan tetapi (dia berkata), `Hendaklah kamu menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(3: 79).

 

  1. B.        Karakteristik Sistem Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sebagai satu mata rantai dari Syariat Islam, memiliki ciri khusus yang sama dengan kekhususan Al Islam sendiri, yaitu syamil-kamil-mutakamil (sistem yang integral-sempurna-dan menyempurnakan). Integralitas sistem pendidikan Islam ini secara garis besar mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, yang secara garis besar adalah :

  1. 1.         Pendidikan Keimanan (aqidah)

Yang dimaksud dengan pendidikan iman adalah mengikat individu dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syari’ah Islamiyah. Metode pendidikan ini adalah menumbuhkan pemahaman terhadap dasar-dasar keimanan dan ajaran Islam yang bersandarkan pada wasiat-wasiat Rosululloh saw. dan petunjuknya.

  1. 2.         Pendidikan Moral (Akhlaq)

Maksud pendidikan moral adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh individu sejak masa analisa hingga ia menjadi seorang mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan.

Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan-keutamaan moral, perangai dan tabiat merupakan salah satu buah iman yang mendalam, dan perkembangan religius yang benar.

  1. 3.         Pendidikan Fisik

Pendidikan Islam sangat memperhatikan fisik tiap-tiap muslim. Apabila kita bicara tentang fisik dalam pendidikan, yang dimaksud bukan hanya otot-ototnya, panca inderanya dan kelenjar-kelenjarnya, tetapi juga potensi energik yang muncul dari fisik dan terungkap melalui perasaan.

Islam mendidik umatnya dengan memberikan rangsangan yang baik sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw. : “ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada mukmin yang lemah.” Islam juga mengajarkan aturan -aturan yang sehat dalam makan, minum, dan tidur. Mendidik untuk menjaga kesehatannya, dengan selalu menganjurkan olah raga dan menjauhkan diri dari penyebab-penyebab kelemahan.

  1. 4.         Pendidikan intelektual

Maksud pendidikan intelektual adalah pembentukan dan pembinaan berpikir individu dengan segala sesuatu yang bermanfaat, ilmu pengetahuan, hukum, peradaban ilmiah dan modernisme serta kesadaran berpikir dan berbudaya. dengan demikian ilmu, rasio dan peradaban individu tersebut benar-benar dapat dibina.

Akal adalah kekuatan manusia yang paling besar dan merupakan pemberian Allah yang paling berharga. Dan al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan akal ini. Al-Qur’an mendidik akal dengan begitu banyak ayat-ayat alam semesta untuk jadi bahan perenungan. Tapi bukan perenungan itu yang menjadi tujuannya, melainkan mendidik akal agar cermat, cerdas dan akurat dalam berpikir dan bersikap serta menempuh jalan hidup. (67:4 / 35:40 / 53:28 / 17:36)

  1. 5.         Pendidikan Psikhis

Maksud pendidikan psikhis adalah mendidik individu supaya bersikap berani, berterus terang, merasa sempurna, suka berbuat baik terhadap orang lain, menahan diri ketika marah dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan psikhis dan moral secara keseluruhan.

Tujuan pendidikan ini adalah membentuk, menyempurnakan dan menyeimbangkan kepribadian individu, sehingga mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik dan sempurna.

  1. 6.         Pendidikan Sosial

Maksud pendidikan sosial adalah mendidik individu agar terbiasa menjalankan adab-adab sosial yang baik dan dasar-dasar psikhis yang mulia dan bersumber pada aqidah Islamiyah yang abadi dan perasaan keimanan yang mendalam, agar di dalam masyarakat nanti ia bisa tampil dengan pergaulan dan adab yang baik, keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana.

  1. 7.         Pendidikan seksual

Yang dimaksud pendidikan seksual adalah upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada individu, sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan. Sehingga, jika anak tumbuh menjadi seorang pemuda, dia dapat memahami masalah yang dihalalkan dan yang diharamkan. Bahkan mampu menerapkan tingkah laku Islami sebagai akhlak, kebiasaan, dan tidak akan mengikuti syahwat dan cara-cara hedonisme.

Diantara pendidikan ini adalah mendidik adab-adab meminta idzin, adab memandang, keharusan menghindarkan diri dari rangsangan-rangsangan seksual, mengajarkan tentang hukum-hukum pada masa pubertas dan masa baligh, Perkawinan dan hubungan seksual, isti’far (mensucikan diri) bagi orang yang belum mampu menikah, dll.

Selain syamil, pendidikan Islam juga memiliki keistimewaan lain yaitu, Berdimensi manusiawi dengan paket pembinaan yang bertahap dan tawazun (penuh keseimbangan dalam segala sisi kehidupannya). selain juga terus mengikuti perkembangan jaman serta tetap menjaga orisinalitasnya.

Itulah garis besar karakteristik pendidikan Islam yang keberlangsungannya sangat bergantung pada manusia pelaksananya, perangkat serta keistiqomahan seluruh masyarakat dalam merealisir konsep pendidikan itu pada tujuan yang benar. Yakni upaya sungguh-sungguh (jihad) menciptakan masyarakat yang seluruh aktifitas ritual, sosial, intelektual, dan fisikalnya tunduk kepada tata aturan Maha pencipta alam semesta.

 

  1. C.        Pengertian Korupsi

Asal kata korupsi berasal dari kata corrumpere. Dari bahasa latin inilah kemudian diterima oleh banyak bahasa di Eropa, seperti: dalam bahasa Inggris menjadi corruption atau corrupt, sedangkan dalam bahasa Belanda, menjadi corruptie. Arti harfiah dari korupsi adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, tidak bermoral, penyimpangan arti dari kesucian, dapat disuap. Poerwadarminta  mengartikan korupsi adalah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan sebagainya.

Menurut Robert Klitgaard yang mengupas korupsi dari perspektif administrasi negara, mendefinisikan korupsi sebagai Tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi sebuah jabatan negara karena keuntungan status atau uang yang menyangkut pribadi (perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri); atau melanggar aturan-aturan pelaksanaan menyangkut tingkah laku pribadi.[1]

Sementara definisi korupsi (ghulul) menurut Islam adalah penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan cara sariqoh (pencurian), ikhtilas (penggelapan), al-Ibtizaz (pemerasan), dan suap (risywah) sebagai perbuatan mengkhianati amanah yang diberikan masyarakat kepadanya. Intinya, setiap perbuatan mengambil yang bukan haknya, baik secara terang-terangan atau tersamar termasuk dalam perbuatan korupsi. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa Haram terhadap korupsi. Larangan korupsi ditegaskan di dalam Al-Qur`an, Alloh berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfaal: 27)

Lalu Rosululloh SAW menegaskan hukum berbuat korupsi, sabda Beliau SAW,

“Alloh melaknat orang yang menyuap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi )

Di ayat lain, Alloh memperingatkan siapa yang korupsi maka di akhirat ia akan datang membawa harta hasil korupsinya untuk menerima pembalasannya.

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)

 

  1. D.        Korupsi Dipandang Dari Perspektif Islam

Adanya kasus korupsi atau maraknya aksi pencurian harta negara menandakan bahwa rakyat Indonesia, atau umat Muslim sebagai masyarakat mayoritas di Indonesia, sudah semakin teracuni oleh budaya hedonisme dan paham materialisme. Paham materialisme selalu menempatkan materi yang berupa benda-benda duniawi sebagai ukuran kebahagiaan dan kesuksesan manusia. Seberapa hebat seseorang dilihat dari seberapa banyak duit yang ia punya. Tradisi hedonis adalah gaya hidup yang berlebihan dalam memuja kehidupan dunia. Dalam pemahaman orang hedonis, kehidupan dunia adalah segalanya sedangkan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tidak ada. Orang yang memuja gaya hidup ini sangat jauh dari berkeinginan untuk membantu sesama atau mempedulikan kehidupan sosial di sekitarnya. Orang hedonis atau materialis rela melakukan apa saja untuk mendapatkan harta. Tindakan suap-menyuap, gratifikasi, korupsi atau apapun namanya dianggap legal demi memuluskan keinginan dan hasrat mereka.

Korupsi di negeri ini harus dikikis sedikit demi sedikit melalui pembudayaan kepada seluruh rakyat, terutama umat Muslim yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia, bahwa agama Islam sangat mengutuk tindakan korupsi. Umat Muslim dalam hal ini mencakup baik rakyat awam maupun pemerintah atau pejabat negara yang diamanahi tugas untuk mengatur negara.

Sebagai upaya penyadaran umat Muslim akan hinanya tindak korupsi, umat Muslim hendaknya memperhatikan kembali firman Allah berikut:

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 188).

Teladan mulia yang paling utama bagi umat Muslim, Nabi Muhammad SAW, melarang umat manusia untuk melakukan tindakan suap-menyuap. Beliau bersabda:

“Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan orang yang menjadi perantara di antara keduanya” (HR. Tirmidzi).

Selain itu, Rasulullah SAW juga menyarankan kepada para penguasa untuk memberikan upah atau gaji yang layak kepada para pegawai. Upah yang layak merupakan syarat mutlak bagi terhindarnya suatu negara dilanda badai korupsi. Beliau bersabda:

“Barang siapa yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak punya rumah, maka haruslah ia mendapatkan rumah. Bila ia tidak memiliki istri, maka haruslah ia menikah, bila ia tidak memiliki pembantu maka hendaklah ia mengambil pembantu dan bila ia tidak memiliki hewan tunggangan hendaklah ia memiliki hewan tunggangan. Barang siapa yang mengambil selain itu maka ia telah melakukan kecurangan” (HR Abu Dawud).

Pada riwayat yang lain, beliau bersabda:

“Hai kaum muslimin, siapa saja diantara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Dan kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti” (HR Abu Dawud).

Nabi Muhammad SAW selain menawarkan solusi pemberian gaji yang layak untuk mencegah korupsi dan melarang praktik suap-menyuap, beliau melarang pegawai negeri atau orang yang diamanahi tugas kenegaraan untuk menerima gratifikasi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dikisahkan bahwa Rasulullah SAW memberi tugas kepada seorang lelaki dari Bani Al-Asad yang bernama Ibnu Lutbiyah untuk memungut zakat. Setelah kembali dari menjalankan tugasnya, lelaki tersebut berkata kepada Rasulullah SAW: “(Harta) ini untuk anda dan (harta) ini untukku karena dihadiahkan kepadaku.” Setelah mendengar kata-kata tersebut, Rasulullah SAW naik ke atas mimbar. Setelah mengucapkan puji-pujian ke hadirat Allah, beliau bersabda: “Apakah patut seorang petugas yang aku kirim untuk mengurus suatu tugas mengatakan: “Ini untuk anda dan ini untukku karena memang dihadiahkan kepadaku?” Bukankah lebih baik dia duduk di rumah bapak atau ibunya (tanpa memegang suatu jabatan)? Dan perhatikan apakah dia akan dihadiahi sesuatu atau tidak! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman-Nya, tidaklah seorang di antara kalian (pejabat) memperoleh sesuatu dari (hasil pemberian), kecuali pada Hari Kiamat dia akan datang dengan memikul seekor unta yang sedang melenguh atau seekor lembu atau seekor kambing yang mengembek di atas tengkuknya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah teladan Islam kepada umat Muslim mengenai permasalahan korupsi. Tidak ada sedikit pun dalam ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk memakan harta negara yang tidak haq (benar).

 

  1. E.         Urgensi Pendidikan Islam dalam Memberantas Korupsi

Lalu bagaimana cara memberantas korupsi kelas kakap yang telah mendarah daging? Cara yang paling ampuh dan cepat adalah menggunakan hukum Islam, yaitu potong tangan. Tapi masalahnya, Indonesia bukan negara Islam sehingga tidak bisa menggunakan hukum Islam. Namun, bila kita menggunakan hukum yang ada sekarang maka cara yang paling tepat adalah ada kemauan kuat dari pemerintah untuk tobat, kemudian saling bekerjasama memberantasnya. Sebab, masalah korupsi di Indonesia disebabkan oleh perilaku kelompok, jadi untuk memberantasnya juga harus berkelompok.

Dalam dunia kedokteran, untuk memberantas sebuah penyakit dilakukan dengan lima prinsip. Tiga prinsip diantaranya bisa diterapkan untuk memberantas korupsi, yakni promotif, preventif, dan kuratif.

  1. 1.         Promotif

Promotif artinya pemerintah harus lebih intensif melakukan edukasi kepada generasi muda agar tidak ikut-ikutan budaya korupsi. Edukasi disini bisa lebih diutamakan terhadap pendidikan Islam.

Kita pun harus menyadari betapa pentingnya pendidikan Islam (Tarbiyah Islamiyah) bagi manusia, sehingga pendidikan yang kita lakukan dapat membawakan hasil untuk kejayaan di dunia dan di akhirat. Tarbiyah Islamiyah ini bahkan dapat mengantarkan keberhasilan manusia mengemban amanah dari Allah SWT sebagai khalifah untuk dirinya dan alam semesta.

Pendidikan Islam juga membiasakan manusia untuk hidup dalam suatu komunitas yang saling menjaga dengan nuansa yang hangat dan Islami. Ketika ada yang menyimpang ditegur dengan baik , sehingga lirus kembali. Ketika ada yang kekurangan /membutuhkan dibantu dan ditolong bersama. Sehingga gambaran ideal komunitas muslim seperti zaman Rasul pun mulai terbayang dan optimis ternyata bisa dibentuk. Komunitas sholeh yang berpadu (Q.S Ali Imron : 103). Menuju kemenangan nyata yang hakiki (Q.S Al-Hajj : 77)

  1. 2.         Preventif

Preventif maksudnya melakukan pengawasan secara ketat terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya korupsi. Tindakan ini lebih cocok dilakukan oleh BPK maupun KPK.

  1. 3.         Kuratif

Sedangkan kuratif, yaitu memberikan hukuman yang setimpal sebagai langkah penyembuhan pelaku korupsi. Penerapan langkah ini disesuaikan apakah koruptor perorangan atau kelompok. Kalau dalam syariat Islam, tentu sudah jelas tindakan kuratif dengan cara potong tangan.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Pendidikan Islam perlu dilaksanakan secara berkelanjutan juga karena keimanan manusia yang senantiasa berfluktuasi naik dan turun akibat dosa dan kemaksiatan yang mungkin saja tejadi pada semua manusia. Oleh karena itu, tarbiyah perlu dilaksanakan selama kita masih hidup, karena ia tidak saja membentuk kepribadian muslim tetapi juga meningkatkan dan menjaga nilai-nilai yang telah didapatkan dan dianutnya. Menyeru dan mengarahkan hanya kepada Allah. (Q.S Ali Imron: 79)

Tidak ada sedikit pun dalam ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk memakan harta negara yang tidak haq (benar). Marilah kita hindarkan diri kita dari perilaku korupsi. Sebab, Alquran sebagai representasi perintah Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW, teladan kita yang selalu kita ikuti panutannya, sangat mengutuk keras tindakan korupsi.

 


[1] Jeremy Pope (ed.), Pengembangan sistem Integritas Nasional (Buku Pnduan Transparency International), Grafiti, Jakarta, hal. 90,1999.

~ by adzillah on August 8, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: