AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

EINSTEIN DAN AGAMA

Bagi Einstein, tidak terbayangkan ada ilmuwan yang tidak punya keimanan yang mendalam. Makin jauh kita masuk pada rahasia alam, makin besar kekaguman dan penghormatan kita kepada Tuhan. Einstein melihat Tuhan dalam keanggunan alam semesta yang menakjubkan. Ketakjubannya pada penemuan sains membawa Einstein kepada Tuhan. Jika pandangan agamanya mempengaruhi pemikiran ilmiahnya, pada gilirannya pemikiran ilmiahnya mewarnai pandangan agamanya. Einstein menyatakan bahwa Tuhan tidak lagi personal dalam pengertian Tuhan dipandang dalam citra manusia. Tuhannya adalah Tuhan superpersonal (Susserpersonlichen) yang dibebaskan dari belenggu Tuhan yang “ semata-mata personal” (Nur-Personlichen), atau yang merupakan ungkapan keinginan-keinginan sendiri.

 

INTEGRASI

Muthahhari, dalam Manusia dan Agama, menulis:

Sejarah telah membuktikan bahwa pemisahan sains dari keimanan telah menyebabkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi. Keimanan mesti dikenali lewat sains; keimanan bisa tetap aman dari berbagai takhayul melalui pencerahan sains. Keimanan tanpa sains akan beraktibat fanatisme dan kemandekan. Jika saja tak ada sains dan ilmu, agama, dalam diri penganut-penganutnya yang naif, akan menjadi suatu instrumen di tangan-tangan para dukun cerdik.

Persahabatan antara ilmu pengetahuan dan agama, seperti yang disarankan Muthahhari, dalam cerita sufi (juga Einstein) adalah kerja sma antara si lumpuh dan si buta. Ilmu pengetahuan tanpa bantuan agama, akan terpaku pada tempat duduknya. Ia hanya mempu melihat apa yang berada di sekitarnya. Tanpa ilmu pengetahuan, orang yang beragama akan cenderung mempercayai apa saja.

TEILHARD DE CHARDIN

Ian Barbour (1990) menyebut dua contoh cara untuk memadukan ilmu pengetahuan dan agama, yaitu:

  1. Teologi alamiah (natural theology) merupakan teologi yang berpijak pada agama dan memperkuat ajaran agama dengan bukti-bukti ilmiah.
  2. Teologi alam (theology of nature) yaitu teologi yang berpijak pada ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk merekonstruksi kembali doktrin-doktrin agama.

Teilhard de Chardin ialah sebagai ilmuwan yang menggabungkan kedua teologi tersebut.

Hal-hal yang berhubungan dengan Teilhard :

  1. Ia dilarang mengajar atau berbicara di hadapan umum berkaitan dengan masalah keagamaan; ia diusir dari tanah airnya.
  2. Ia menggerakan gerakan pembaruan yang akhirnya berkembanga pada era Vatikan II
  3. Ia mengusulkan program merekonstruksi sains. Ia menyampaikan kritik sistematis pada sains tradisional.
  4. Ia menimbulkan reaksi keras dalam komunitas ilmiah
  5. Teilhard menulis “buku kecil tentang kesalehan”
  6. Sebagai ilmuwan, ia berpendapat bahwa sumber utama kebenaran agama harus dicari di dunia materi, bukan di magisterium gereja.

 

KONFLIK

GALILEO DAN BELLARMINE

Galileo menjadi korban yang paling sering diperingati dalam peperangan antara sains dan agama. Pandangan Galileo jelas dan tidak dibuat-buat. Dengan teleskopnya yang baru disempurnakan, ia menemukan hal-hal yang tampaknya bertentangan dengan ajaran Alkitab.

 

HUXLEY DAN WILBURFORCE

Darwin mengatakan bahwa manusia bukan lagi keturunan nabi yang ditempatkan disurga. Ia tidak turun dari langit. Ia turun dari monyet.

Teori evolusi menjadi ajang peperangan antara sains dan agama. Sains menuduh agama ketinggalan kereta dan agama menyereang sains sebagai musuh Tuhan.  Menurut Ian Barbour (1990), dari pihak sains pandangan ini diwakili oleh materialisme ilmiah; dan dari pihak agama oleh literalisme biblikal.

 

Skripturalisme

Kaum skripturalis memandanga penjelasan agama yang diwakili oleh pemahaman harfiah pada Kitab Suci sebagai kebenaran tertinggi.

Maurice Bucaille (2001) melakukan penelitian tentang Bibel, Al-Quran, dan sains moder, La Bible, Le coran et la science. Ia sampai pada kesimpulan bahwa sebagian dari Bibel bertentangan dengan sains, sebagian hadis bertentangan dengan sains, tetapi tidak satu pun ayat Al-Quran yang dibohongkan sains. Jika terjadi konflik antara sains dan Al-Quran, kita harus menyntingnya degnan mengatakan konflik antara sains dan sebagian terjemahan Al-Quran.

 


 

Sains Modern

Agama bercerita tentan galam semesta. Begitu pula sains. Menurtut cerita agama-agama Barat, Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari. Agama-agama Timur tidak menerima cerita itu. Sains bercerita tentang The Big Bang dan evolusi. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah, kebenaran cerita ini diterima semua orang.

Keimanan yang berlebihan pada sains disebut positivisme. Positivisme didefinisikan sebagai “satu keluarga filsafat yang ditandai dengan penilaian yang sangat positif pada sains dan metode ilmiah” (Reese, 1980;480). Sebagai alirat filsafat, positivisme ditegakkan diata asumsi-asumsi :

  1. A.        Asumsi Metafisis

Secara metafisis, positivisme mengasumsikan :

  1. Naturalisme yaitu kepercayaan metafisis bahwa manusia dan alam semesta dapat dipahami dan akhirnya dijelaskan tanpa memasukkan unsur “Tuhan” atau “wujud tertinggi” dalam teori-teori ilmiah.
  2. Determinisme merupakan kepercayaan bahwa setiap kejadian di alam semesta seluruhnya ditentukan dan dikondisikan oleh sebab-sebab alamiah yang terjadi sebelumnya.
  3. Reduksionisme adalah kepercayaan bahwa “keseluruhan dapat dipahami secara sempurna dengan menganalisis bagian-bagian”

Reduksionisme bercabang menjadi tiga yaitu:

  1. Atomisme yaitu pandangan bahwa objek material pengamatan dan pengetahuan kita dengan sendirinya dapat dipisahakan atau dibagi-bagi ke dalam variabel, konsruk, dan hukum-hukum yang lebih kecil dan dianggap lebih pokok dari bagian-bagian yang lebih besar.
  2. Mekanisme yaitu kepercayaan bahwa manusia, dunia dan alam semesta mirip sebuah mesin, yang terdiri dari bagian-bagian keci, yang bekerja sama secara tertib dan kerja sama keseluruhannya itu ditentukan dan diniscayakan secara hukum.
  3. Materialisme yaitu pandangan bahwa materi adalah realitas asasi di dunia, dan apa saja yang bergantung pada materi.
  4. B.        Asumsi Aksiologis

Merupakan cabang filsafat yang membahas teori nilai. Sains modern ditegakkan pada dua asumsi aksiologis yaitu:

  1. Relativisme etis, yaitu kepercayaan aksiologis bahwa tidak ada prinsip-prinsip yang absah secara univesal, karena setiap prinsip moral hanya absah secara relatif dengan pilihan kultural atau individual.
  2. Hedonisme etis, adalah kepercayaan bahwa kita selalu berusaha untuk mencari kesenangan kita sendiri dan bahwa kebajikan tertingi bagi kita adalah kesenangan yang paling tinggi dengan derita yang paling sedikit.

 

  1. C.        Asumsi epistemologis yang khas

Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari sifat, sumber, valitiditas, dan batas-batas pengetahuan. Sains modern menganut positivisme. Positivisme berkaitan dengan dua asumsi yaitu:

  1. Realisme Klasik, disebut juga realisme naif, menyatakan bahwa alam semesta itu ada tanpa bergantunga pada kesadaran manusia.
  2. Empirisme, adalah kepercayaan epistemologis “bahwa pengalaman indra kita-melihat, menyentuh, mendengar, mencium, mengeecap- memberikan kepda kita pengetahuan yang terpercaya tentang dunia.”

 

INDEPENDENSI

Para penganut independesi percaya bahwa agama dan sains punya wilayah yuridiksi masing-masing. Keduanya harus hidup bersanding, bukan bertanding. Sains tidak boleh memasuki wilayah agama, sebagaimana agama juga tidak boleh melakukan intervensi dalam wilayah sains.

 

Murtadha Muthahhari membedakan antara peradaban Barat, yang memilah-milah era agama dan era sains, dan peradaban Islam yang memadukan keduanya.

Muthahhari mengajak kita merenungkan sumbangan keduanya bagi kemanusiaan:

  1. Sains memberi kita kekuatan dan pencerahan, dan keimanan memberikan cinta, harapan dan kehangatan.
  2. Sains menciptakan teknologi, dan keimanan menciptakan tujuan.
  3. Sains memberi kita momentum, dan keimanan memberi kita arah.
  4. Sains berarti kemampuan, dan keimanan adalah kehendak baik.
  5. Sains menunjukkan kepada kita apa yang ada di sana sementara keimanan mengilhami kita tnetang apa yang mesti kita kerjakan.
  6. Sains adalah revolusi eksternal, dan keimanan adalah revolusi internal.
  7. Sais menjaikan dunia tampak ramah bagi kita, sedangkan keimanan mengungkit ruh manusia.
  8. Sains memperluas manusia secra horizontal, dan keimanan meningkatkannya secra vertikal.
  9. Sains membetnuk kembali alam, dan keimanan mencetak manusia.
  10. Baik sains maupun keimanan memberi kekuatan kepada kemanusiaan.
  11. Yang diberikan oleh sains kepada manusia adalah kektuatan yang lepas, tetapi keimanan memberinya suatu kekuatan yang kukuh.
  12. Sains adalah keindahan kebijaksanaan, dan keimanan adalah ruh.
  13. Sains dan keimanan memberi manusia kepastian atau penwar bagi kegelisahan, kesepian, ketakberdayaan, dan absurditas.
  14. Sains menyelaraskan manusia dengan sang diri.

Para penganut indpendesi melihat hubungan keduanya dari perbedaan metode dan bahasa

  1. A.        Perbedaan Metode

Pada abad pertengahan, orang membedakan antara kebenaran yang diwahyukan dan kebenaran yang ditemukan, revealed truth dan human discovery. Agama didasarkan pada kebenaran yang kita temukan dalam kitab suci the Scripture. Ilmu pengetahuan didasarkan pada kebenaran yang ditemukan manusai melalui akal dan pengamatan pada alam semesta, the nature. Di dunia Islam, dibedakan antara ayat-ayat Quraniyyah dan ayat-ayat Kauniyyah. Tanda-tanda Tuhan yang pertama dipahami melalui agama, dan tanda-tanda Tuhan yang kedua dipahami melalui sains.

Menurut Al-Ghazali manusia terdiri dari dua dimensi yaitu: khalq yang terlihat dan khulq yang tak terlihat.

Longdon Gilkey, dalam kesaksiannya, menjelaskan perbedaan antara sains dan agama :

  1. Sains berusaha menjelaskan data yang objektif, publik dan dapat diulangi. Agama mempertanyakan adanya keteraturan dan keindahan di dunia dan pengalaman hidup batiniah kita, seperti perasan bersalah, kecemasan, dan kehilangan makna, pada satu sisi, serta memaafkan, percaya, dan kesempurnaan, pada sisi yang lain.
  2. Sains mengajukan pertanyaan yang objektif, how questions. Agama mengajukan pertanyaan personal, why question, berkenaan dengan makna, tujuan, dan asal-usul serta nasib terakhir kita.
  3. Basis otoritas sains terletak pada koherensi logis dan kecermatan eksperimental. Otoritas terakhir dalam agama ada pada Tuhan dan wahyu yang dapat dipahami melalui orang-orang yang telah diberi pencerahan dan pandangan batin, dibuktikan keabsahannya dengan pengalaman kita sendiri.
  4. Sains membut ramalah kuantitatif yang dapat diuji secara eksperimental. Agama harus menggunakan bahasa analogis dan simbolis karena Tuhan bersifat transenden.

 


 

  1. B.        Perbedaan Bahasa

Perbedaan keempat yang disebutkan Gilkey berkaitan dengan bahasa. Jika agama menggunakan bahasa analogis dan simbolis, sains menggunakan bahasa logis dan empiris.

Menurut para anlis linguistik, bahasa yang berbeda mempunyai fungsi yang berbeda. Sains dan agama melakukan tugas yang berbeda, masing-masing tidak dapat dinilai dengan standar yang lain. Menurut Dr. Jeffrey Lewis dan Dr.Christopher Ellison, kterlibatan dalam kegiatan agama berkorelasi secara positif dengan kesehatan jiwa.

Sains hanya mmpu melakukan pengamatan pada apapun yang bisa iukur, sains tidak bisa dipaksa. Biarkan sain menjwab pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan biarkan agama menanggapi masalah-masalah agama.

Komentar Barbour untuk macam-macam opsi independensi

“Jika sains dan agama betul-betul independen, kemungkinan konflik dapat dihindari, tetapi kemungkinan adanya dialog konstruktif dan saling memperkaya akan dihilangkan juga. Kita tidak mengalami hidup sebagai petak-petak yang dipisahkan secara rapi; kita mengalaminya dalam keseluruhan dan dalam keterkaitan satau sama lain sebelum kita mengembangkan disiplin tertentu untuk memahami aspek-aspeknya yang berbeda. Ada dasar dalam Kitab Suci untuk keyakinan bahwa Tuhan adalah Pangeran bagi seluruh kehidupan kita dan Tuhan alam semesta, bukan hanya penguasa pada lingkungan ‘agama’ saja.”

 

~ by adzillah on April 6, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: